
Sekarang di Sumatera mulai ramai menggelar balap motor berpenggerak CVT itu. Inilah salah satu skubek yang jadi jawara dari Bukittinggi. Skubek balap yang turun di kelas 130 cc ini sukses mengasapi rivalnya yang datang jauh-jauh dari seputar pulau Andalas itu.
“Kelas 130 cc persaingannya marak karena bore up mesin yang dilakukan masih sederhana atau belum terlalu ekstrem. Apalagi sudah jadi supporting race di kejurnas,” pasti Rico Yoma mekanik Indah Motor, Bukittinggi, Sumatera Barat.
Mio Sporty Racikan Rico ini sukses mengantarkan Lucky pada event MAC Sound Buz Matic Race yang digelar di Bukittinggi (21/03) lalu. “Senangnya bisa naik podium pertama,” girang Lucky.
Turun di kelas 130 cc seting mesin harus meyesuaikan. Guna menaikkan kapasits silinder, Rico mengandalkan Piston Izumi BRT yang diameternya 52,5 mm. “Aplikasinya enggak repot sebab pen piston bisa pakai standar Mio. Tinggal korter silinder,” ungkap Rico dari bengkelnya di Jl. Soekarno-Hatta, Bukittinggi.
Setelah dihitung kapasitas mesin masih aman untuk turun di kelas 130 cc. Tinggal atur ulang bagian silinder head. Tentu dengan harapan agar kompresi bisa lebih padat dan tenaga Mio bisa cepat diraih.

Untuk tahap ini, silinder head kena papas 0,2 mm. Sengaja enggak dipapas terlalu ektrem dengan maksud supaya endurance mesin bisa tetap terjaga.
Selanjutnya tinggal pilih penggunan klep. Dipilih payung klep aftermarket yang tahan jeber. Untuk klep masuk dibuat jadi 25 mm sedangkan katup buang berubah jadi 22 mm. Ini dilakukan biar tenaga matik bejaban di trek pendek.
Buat menemani buka-tutup klep dari Thailand itu noken as atau kem perlu disesuaikan durasinya. Sayang doi enggak terlalu paham soal durasi. Namun yang jelas danpastinya, Rico modifikasi dari kem standar.
Sektor pengapian harus mumpuni. Makanya Rico mengandalkan CDI aftermarket produk BRT. “Saya pilih yang dual band supaya seting mesin lebih mudah,” lanjut Rico.
Untuk bahan bakar Lucky lebih memilih Pertamax Plus yang dirasa sudah cukup. Dengan suplai bahan bakar masih mengandalkan karburator aslinya dengan pilot-jet 128 dan main-jet 40.
Terakhir, untuk saluran buang dipilih produk AHRS tipe F4. Beda dengan di Jawa, turun di kelas 130 cc wajib menggunakan knalpot standar yang sudah dibobok. “Regulasinya belum seragam, makanya masih diperbolehkan pakai knalpot racing,” beber Rico.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar